Artikel Berita

Menulis sebagai Terapi

 

Edisi.co.id – Tidak semua orang dapat mengungkapkan isi hatinya kepada keluarga atau temannya lewat kata-kata. Nah, bagi mereka yang seperti ini menulis adalah aktivitas yang dapat mengurangi beban hidupnya, sebab telah melepaskan isi hatinya lewat tulisan.

James Penneabeaker, profesor psikologi di Shouthern Methodis University melalui serangkaian penelitian membuktikan bahwa menuliskan perasaan-perasaan akan berpengaruh positif bagi kesehatan dan kekebalan tubuh.

Psikolog Katharina Amelia Hirawan mengemukakan bahwa menulis merupakan sebuah terapi terutama bagi penderita gangguan psikologis. Bahkan seorang Psikolog dari Universitas New South Wales, Keren Baikie mengemukakan bahwa ketika kita menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan, emosi dan bersifat traumatis, kesehatan fisik dan mental kita dapat menjadi lebih baik dibandingkan ketika kita menulis dengan topik yang netral. Kesimpulan ini merupakan hasil studi Keren Baikie dengan meminta semua partisipannya untuk menuliskan tiga sampai lima peristiwa dalam waktu 15 menit dan hasilnya benar-benar signifikan.

Dalam jangka panjang terapi menulis ekspresif ini mampu mengurangi kadar stres, mempersingkat waktu perawatan di rumah sakit, mengurangi tekanan darah, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, memperbaiki fungsi lever, paru-paru, meningkatkan mood dan mengurangi trauma.

Karena menulis merupakan sebuah terapi, mungkin kita akan bertanya: menulis apa dan di media apa yang efektif? Jawabannya pasti bergantung pada tingkat kenyamanan kita masing-masing. Di era teknologi, manusia semakin dimanjakan dan dimudahkan. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari kita disuguhi curcol dan kicauan di facebook dan twitter. Menulis secara simpel curhatan lewat jari jemari dengan toots keypad telepon genggam, laptop maupun komputer. Ini adalah menulis yang paling simpel dan mudah.

Dengan media ini banyak sahabat kita di dunia maya memedulikan dan dengan sukarela memberi solusi atau paling tidak memberi penguatan agar kita sabar, tabah dan lebih kuat menghadapi masalah.
Coba kita lihat di era buku diary berjaya. Sampai sekarangpun kebiasaan menulis diary masih sering dilakukan anak-anak remaja atau ABG (Anak Baru Gede).

Diantara kita mungkin juga mengalami hal ini, menuangkan curcol di buku harian setiap harinya. Nah, coba bedakan perasaan yang muncul setelah kita menyelesaikan curhatan kita di buku harian dengan sebelum menuliskannya. Pasti perasaan kita jauh lebih nyaman dan tenang setelah menulis diary.

Tak jarang pula buku harian juga merupakan ungkapan kemarahan, sumpah serapah, dan caci maki yang selama ini kita pendam. Begitu menumpahkannya semua di buku diary pastilah emosi kita mereda dan muncul sikap positif kembali memandang hidup. Tak jarang kita menemukan solusi dari masalah yang sedang kita tulis seketika itu juga, sehingga kita tak perlu terlalu lama memikirkan dan memendamnya.

Sayangnya seiring bertambahnya usia dan waktu, kita mulai meninggalkan kebiasaan menulis diary. Mungkin kita merasa sudah tua dan tak pantas lagi menulis buku harian sebagaimana para remaja. Tetapi jika mengingat manfaat dan kegunaan menulis sebagai sebuah terapi seperti uraian di atas, bukankah kita patut melanjutkannya? Karena ini bukan soal patut tidak patut, pantas tidak pantas, tapi bagaimana cara memanajemeni emosi kita dari hal yang negatif akibat tak samanya harapan dengan kenyataan.

Dalam berbagai kesempatan Writing Camp yang dilakukan oleh Katharina Amelia Hirawan, ia seringkali menemukan bahwa bukan saja menulis menjadi terapi tetapi menjadi media pengembangan diri, dan sangat fantastis karena memunculkan banyak bakat-bakat baru dalam menulis yang akhirnya memotivasi menjadi penulis buku. Ibu dua putri dan pendiri Biro Psikologi Sinergi Consultan Surabaya itu mengisahkan, pernah ada seorang baby sitter yang mampu menulis buku mengenai peran baby sitter hanya dalam waktu empat hari. Ini merupakan salah satu hasil terapi psikologis dengan menulis.

Oleh: Sabda Mustafa
Penulis, Editor, Praktisi Penulisan dan Penerbitan

Leave a Comment