Agama Berita

Ketua MIUMI Bekasi : Ulama dan Pendidik Harus Memberikan Edukasi Tentang Bahaya Valentine

Edisi.co.id – Hari Valentine mungkin sudah tak asing lagi ditelinga kita. Peringatan hari kasih sayang yang biasa diperingati setiap tanggal 14 Februari itu biasanya dirayakan oleh seluruh masyarakat bumi belahan barat seperti Amerika, Eropa, dan lain sebagainya. Namun perayaan ini kemudian merambah ke dunia Islam khususnya generasi muda Islam dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Bekasi, Wildan Hasan, Valentine bertolak belakang dengan syariat Islam.

“Selain memang bukan hari raya umat Islam, valentine Day juga mendatangkan kemudharatan, ungkap Wildan kepada edisi.co.id, Rabu (12/2).

Mungkin ada sebagian umat Islam di lingkungan kita yang merayakan valentine day dengan pasangannya masing-masing. Bahkan bukan hanya pasangan yang sudah menikah, banyak juga pasangan belum halal yang merayakannya bersama.

Dari sejarah dan prakteknya jelas valentine day berpotensi merusak akidah, ibadah dan akhlak umat Islam apabila dikerjakan.

Wildan memandang, ada empat kerusakan yang akan terjadi apabila seorang muslim merayakan hari “kasih sayang” itu.

Pertama, memancing umat melakukan perbuatan tidak beradab dan tidak patut dilakukan pasangan yang bukan mahram. Karena valentine day adalah sebuah kegiatan yang mendorong kepada perbuatan fakhsya, yaitu perzinahan. Islam mengharamkan aktivitas yang akan menjerumuskan manusia kepada praktek zina seperti termaktub dalam larangan Allah di dalam Al Qur’an, wa laa taqrobuz zina.

Lanjut Wildan, kerusakan kedua yang bisa timbul yakni  tasyabuh Sebagaimana Rasulullah SAW, pernah bersabda mengenai aktifitas tasyabuh yang berakibat kita termasuk golongan itu. Islam sangat ketat menjaga kita agar kita tidak tasyabuh

“Karena kita beriman dan beribadah kepada Allah SWT, mereka justru ingkar kepada-NYA,” ucap Wildan

Rasulullah mengingatkan bahwa barang siapa menyerupai suatu kaum maka termasuk ke dalam golongan tersebut. Kita diharuskan untuk bangga dengan budaya kita sendiri, bukan bangga dengan budaya luar. Budaya Islam jauh lebih bernilai, berharga dan bermartabat dibanding budaya Barat kafir.

Ketiga, perayaan valentine day bisa menjadikan kehidupan umat Islam tidak agamis. Sebab perayaan tersebut menjauhkan kita dari ajaran dan syariat Islam.

“Valentine day adalah salah satu bentuk Ghazwul fikr. Perang pemikiran untuk merubah cara pandang dan cara hidup umat Islam menjadi tidak Islami dan jauh dari agamanya,” ujarnya.

Dan kerusakan terakhir dalam pandangan Wildan, adalah kita akan terjerumus kepada perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat. Padahal, kita telah diingatkan oleh Rasulullah SAW untuk meninggalkan perbuatan semacam itu.

Merayakan valentine day adalah perbuatan yang sangat jelas tidak ada manfaatnya sedikitpun. Oleh karena itu, bila kita ingin menjadi muslim yang baik dan muslim yang komit mengikuti sunah Rasulullah, kita harus patuhi aturan Rasulullah SAW. Satu di antaranya adalah memaknai dan mengamalkan kasih sayang secara benar sesuai Al Qur’an dan As Sunnah.

Wildan berharap agar Pemerintah membentengi masyarakat dari budaya yang tidak sesuai dengan jati diri bangsa dan agama di Indonesia. Sementara para Ulama dan pendidik harus terus memberikan edukasi mengingatkan akan bahaya perayaan tersebut.

“Setiap keluarga muslim harus terus mengkaji agama dan bertanggungjawab atas keselamatan aqidah, ibadah dan akhlak seluruh anggota keluarga. Semua harus bergerak dan bersinergi. Bekerjasama menyelamatkan ummat dan bangsa dari perusak dan virus yang menyerang kehidupan beragama dan bermasyarakat,” punkas Wildan.(Hlh/Ihm)

Tinggalkan Komentar