Berita Opini

Islam dan Keutamaan Ahlak

Oleh Asri Al Jufri

Edisi.co.id – Islam diturunkan  Allah melalui Nabi Muhammad SAW, sebagai penyempurna atas ajaran agama (ad-dien) yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Sebagaimana ajaran agama sebelumnya, Islam merupakan petunjuk bagi umat manusia sebagai Khalifah Allah di bumi ini, agar bisa menjalankan fungsinya secara baik dan benar, sehingga selamat di dunia dan di akhirat.
Karena itu, inti ajaran Islam adalah sebagai petunjuk dan pedoman dalam bersikap dan berperilaku, atau dalam bahasa Al-Quran yaitu untuk membina kemuliaan akhlak. Rasulullah bersabda yang artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan ahlak. (HR. Malik).
Dari hadits tersebut tersirat dan tersurat secara jelas bahwa dari sekian banyak misi yang diemban Rasulullah, pada intinya adalah untuk mengajak umat manusia agar berakhlak mulia. Allah berfirman yang artinya: “Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu Rasul dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 151).
Rasulullah Muhammad SAW diberi tugas untuk menyampaikan ayat-ayat Kami” kepada seluruh umat manusia, dengan tujuan untuk mensucikan perilaku manusia agar sesuai dengan tuntunan-Nya, demi kebaikan dan kemuliaan manusia itu sendiri.
Untuk mencapai kesucian dan kemuliaan akhlak itu tentu bukan hal yang mudah. Allah memahami betapa lemahnya sifat manusia yang selalu cenderung pada hal-hal negatif. Manusia mudah tergoda oleh dorongan hawa nafsu. Manusia cenderung tergesa-gesa, serakah, iri hati, dengki, dan berbagai sifat buruk lainnya. Karena itu, Allah selalu mengingatkan manusia melalui mekanisme pembinaan sebagaimana tersirat dalam berbagai aktivitas ibadah ritual yang wajib dilaksanakan. Tujuannya tidak lain agar manusia secara terus menerus diingatkan untuk selalu menjaga kemuliaan akhlak itu.

Akhlak dalam Shalat
Dalam ibadah shalat, umat Islam setidaknya diingatkan lima kali dalam sehari untuk melakukan perenungan, konsolidasi dan motivasi internal, agar tidak menyimpang dari tata perilaku yang telah diajarkan. Allah berfirman yang artinya: Dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. (QS. Al-Ankabut: 45).
Berbagai gerak dan bacaan dalam shalat antara lain mengandung pengakuan manusia akan kebesaran Allah, dilanjutkan dengan pujian kepada Yang Maha Besar itu, serta permintaan akan kebaikan dan keselamatan. Implemantasi dari pengakuan, pujian dan permintaan itu tidak lain dari kesediaan untuk tunduk dan patuh kepada perintah dan larangannya, yang akhirnya akan tercermin pada kemuliaan akhlak yang terbebas dari perbuatan keji dan munkar.

Akhlak dalam Zakat
Begitu pula dalam ibadah zakat yang mengajarkan manusia untuk menyerahkan sebagian dari haknya kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Manusia diingatkan bahwa di dalam hartanya terdapat bagian yang menjadi hak orang lain. Allah berfirman yang artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka. Dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan (akhlak) mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. (QS. At-Taubah: 103).
Kerelaan untuk menyerahkan sebagian harta kepada orang lain, merupakan suatu pembelajaran bagi manusia untuk tidak serakah. Dengan kata lain, jangankan harta orang lain yang bukan haknya, harta milik sendiri pun ia rela untuk memberikannya kepada orang lain. Biasanya, orang yang terlalu sadar akan haknya dan terlalu takut haknya diambil orang lain, cenderung untuk mengambil hak orang lain. Karena itu, sadar akan hak itu baik, tetapi kalau kesadaran itu terlalu berlebihan, kadang bisa merambah pada hak orang lain.
Zakat mengajarkan kepada kita agar tidak melupakan kepedulian kepada sesama dengan menyisihkan sebagian harta untuk orang yang membutuhkannya.

Akhlak dalam Shiam
Ibadah puasa atau shiam yang wajib dilaksanakan pada setiap bulan Ramadhan merupakan media pendidikan dan pembinaan pribadi yang paling sempurna. Malahan puasa Ramadhan tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki kepribadian tetapi juga memperbaiki dan menyehatkan secara fisik dan sosial. Sehingga seusai Ramadhan diharapkan akan lahir pribadi yang tangguh, yang sehat akhlaknya, sehat fisiknya dan sehat pula hubungannya dengan masyarakat dan alam sekitarnya.
Ada beberapa nilai penting terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa, antara lain berupa nilai kejujuran, kedisiplinan, keikhlasan, integritas, ikhsan, kepedulian, dll. Bisa saja seseorang berbohong dengan berpura-pura berpuasa, karena yang mengetahui hanya Allah dan dirinya. Ibadah puasa mengandung nilai keikhlasan untuk mematuhi perintah Allah, sekaligus mendidik integritas dan ikhsan, karena menyadari bahwa Allah akan mengetahui apa yang dia kerjakan.
Puasa juga melatih akhlak sosial berupa kepedulian terhadap orang yang tidak beruntung, merasakan perihnya lapar, melatih sikap penyantun dengan memperbanyak amalan sosial. Islam mengajarkan bahwa kepedulian kepada orang miskin, tidak cukup hanya didasarkan pada pengamatan, tetapi juga harus ikut merasakan dan mengalami betapa pedihnya lapar.
Puasa juga mengajarkan sikap dan tutur kata melalui pengendalian lisan. Rasulullah bersabda yang artinya: “Apabila pada suatu hari seseorang berpuasa, maka jangan mengucapkan kata-kata keji dan jangan merampas hak orang. Apabila ia dicela atau ingin diserang, maka katakanlah, aku sedang berpuasa. (HR. Muslim dan Ibnu Majah).

Akhlak dalam Haji
Seperti pada ibadah-ibadah yang lain, ibadah haji juga mengajarkan pentingnya ketaqwaan dan keikhlasan. Ibadah haji merupakan perwujudan rasa syukur atas rizki yang dilimpahkan Allah kepada kita.
Kita sering mendengar ucapan orang yang sedang berusaha memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangganya, dengan mengatakan: Kalau usahaku sukses, aku akan naik haji. Karena itu wajar ketika seseorang telah mencapai tarap ekonomi yang layak, kondisi fisik yang sehat, dan situasi memungkinkan, maka dia akan menunaikan ibadah haji dengan penuh rasa syukur.
Rasa syukur yang mendalam akan tercermin pada akhlak dan kepribadian sehari-hari, yang selalu ingat kepada Allah, perduli terhadap penderitaan orang lain, penuh cinta kasih kepada sesama. Allah berfirman yang artinya: Musim haji itu adalah pada bulan-bulan yang telah dimaklumi. Barang siapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, maka janganlah dia berkata rafas (jorok), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (mengerjakan) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya. Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah: 197).
Ibadah haji tidak hanya ditujukan untuk menjaga hubungan baik dengan Allah tetapi juga menjaga hubungan baik dengan alam sekitarnya. Hal tersebut tercermin pada larangan membunuh hewan dan larangan menebang pohon.
Dalam pelaksanaan ibadah haji kita diajarkan mengenai akhlak dengan sesama muslim dari berbagai bangsa. Kita dididik untuk membangun ukhuwah Islamiyah, menjalin kerjasama, tolong menolong dan sikap toleransi dengan orang yang mempunyai latar belakang budaya yang beraneka ragam.

Dengan menjalankan dan menghayati berbagai ibadah ritual itu secara benar, diharapkan mampu memperbaiki akhlak seseorang, sehingga menjadi pribadi yang utuh, unggul dan mampu menebarkan kebaikan bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Ibadah ritual merupakan kewajiban sekaligus kebutuhan karena mengandung pelajaran sekaligus peringatan yang akan meningkatkan kualitas kepribadian seseorang secara terus menerus.
Rasullah diutus untuk memperbaiki akhlak, dan itu dilakukan antara lain melalui pelaksanaan ibadah ritual. Kini, menjadi tanggung jawab kita untuk meneruskan misi kenabian itu: memperbaiki akhlak diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan bangsa.***

*) Untuk konsultasi penulisan bisa email ke: asrial2009@yahoo.com

Tinggalkan Komentar