Berita orientasi dakwah ramadhan

IMAN DAN AMAL SHALEH

 

Oleh: al-Ustadz Sulaeman

Edisi.co.id – Dalam Al Qur’an ada dua kata yang tidak pernah terpisahkan, yaitu iman dan amal shaleh. Amal seseorang tidak akan tercatat sebagai suatu amalan tersebut, kalau amalan tersebut tidak didasari oleh suatu keimanan yang ada di dalam hatinya. Begitupun dengan keimanan seseorang yang akan dipertanyakan ataupun malah di ragukan jika tidak berbuah amal.

Iman menurut Imam al Ghazali, sufi besar Islam, dalam bukunya “Faishal al Tafriqah Baina al Islam wa al Zandaqah” mengatakan bahwa:

“Iman adalah cahaya yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya, sebagai anugerah dan hadiah dari sisi-Nya”. Jadi iman itu hidayah yang merupakan hak preogratif Allah Swt yang diberikan kepada yang dikehendakinya.

Tetapi pada saat sekarang ini banyak seorang muslim yang mengaku beriman tetapi tidak mengerjakan amal shaleh secara berkelanjutan. Seolah-olah keimanan ini hanya dijadikan topeng untuk meraih keuntungan tertentu, seperti halnya dalam politik.
Namun, untuk mengerjakan amal saleh mereka lalai.

Padahal iman dan Amal Shaleh merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang. Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi.

Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

Allah ta’ala menjanjikan bagi siapa saja yang menggabungkan antara iman dan amal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia maupun akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah An-Nahl : 97 :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(QS. An-Nahl:97)

Di dalam beramal shaleh, apabila kita berfikir ataupun bertindak hanya mementingkan diri sendiri. Maka rizki dari Allah Swt akan di sempitkan karena pahala juga ada batasnya. Maka dari itu sebaiknya kita berfikir dan bertindak jangan hanya untuk diri sendiri, bahkan untuk kemaslahatan umat dan kepentingan masyarakat.

Karena semakin banyak orang yang kita pikirkan dan kita bantu maka banyak pula pintu rizki yang Allah Swt bukakan kepada kita, pahalapun akan terus mengalir tanpa henti.

Misalnya seperti kita sedang saum khususnya di bulan ramadhan, ketika dari awal saum sampai menjelang buka saum yang kita pikirkan hanyalah perut kita sendri, maka pahala yang di raih hanya satu, untuk perutnya. Berbeda dengan orang yang bukan memikirkan perutnya sendiri, namun juga kebutuhan oranglain, memikirkan agar tidak ada tetangga yang kelaparan, kekurangan dan lainnya.

Maka semakin banyak orang yang kita bantu, semakin banyak pula pahala yang kita raih.

Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi).

Maka dari itu jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mementingkan diri sendiri tidak peduli dengan sesama. Maka begitu mati, sudah tidak ada lagi yang di harapkan karena tidak meninggalkan hal yang bermanfaat bagi yang hidup.

Karena seorang mukmin yang cerdas, ia akan berusaha memaksimalkan jatah umurnya dipenuhi dengan amal shaleh yang pahalanhya terus mengalir dan tanpa henti. Inilah yang dimaksud sabda Rosulullah Saw :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim no. 1631)

Wallahu a’lam bishawab..

Leave a Comment