Berita Opini

Catatan Pewarta Foto Saat Tugas di Tengah Pandemi Covid-19

 

Edisi.co.id – Meliput wabah Covid-19 lebih sulit dibanding meliput konflik ataupun bencana alam. Jadi bagaimana?

Meliput hal-hal yang luar biasa, speerti perang dan wabah harus disikapi dengan luar biasa, luar biasa telitinya.

Memotret wabah corona harus memakai mitigasi wabah menular. Banyak hal tidak terukur dalam wabah. Jadi kita hanya bisa membuat persiapan berdasarkan hal terukur. Yang terukur adalah virus corona menyebar melalui droplet air liur, air ludah, titik-titik air yang keluar dari mulut. Air liur bisa jatuh kemana saja, itu yang dijadikan patokan

Viru corona tidak terlihat mata, ini tidak terukur dan berbahaya.

Panduan untuk para rekan-rekan jurnalis foto.

Wajib memakai masker N95 atau yang setingkat, jangan memakai masker kaleng-kaleng.

Jarak fisik antar manusia adalah patokan wajib.

Bila harus memasuki Rumah Sakit, wajib memakai APD buatan 3M dari ujung kepala sampai ujung sepatu, serta memakai kacamata pelindung.

Catatan kalau tidak sangat terpaksa, sebaiknya jangan meliput ke Rumah Sakit. Ingat sudah banyak pekerja medis yang meninggal dunia.

Badan harus fit, kalau sakit sebaiknya tidak meliput.

Harus ada ruang isolasi guna membersihkan badan.

Jangan lupa semprot semua barang yang dibawa kedalam liputan dengan disinfektan sebelum masuk rumah ataupun masuk kantor seusai liputan.

Basuh tangan dan mandi dengan sabun biarkan sabun merata dan tunggu 30 detik sebelum dibilas dengan air mengalir.

Bila selesai liputan APD harus dibuang ketempat sampah khusus APD dan dibungkus dalam plastic bersegel.

Kalua menurut logika dan situasi lapangan, penyebaran virus terlalu berbahaya sebaiknya peliputan ditiadakan.

Cek asuransi kesehatan dari kantor apakah terkena wabah juga dicover? Ingat tidak semua asuransi kesehatan melindungi wartawan dari peliputan wabah. Jika tidak dicover minta kantor untuk mengubahnya.

Sebelum berangkat kantor berdoalah, karena doa yang membuat kita tenang.

Ketika harus meliput, ingat jangan panic. Selalu ada pintu kesalahan, tetapi kalua kita tidak panik, selalu ada pintu untuk membetulkan hal yang salah. Kuncinya ada dilogika, dan ligika tidak berjalan kalua kita panik.

Catatan @beawiharta Jurnalis Foto dalam akun instgramnya..

Leave a Comment