Berita Opini

💞Lebih Mesra di Masa Pandemi💞 (Bag-I)

_Ustads KH. Dr. Muhammad Zaitun Rasmin Hafizhahullahu_

Edisi.co.id – Alhamdulillah kita dimudahkan untuk melaksanakan kegiatan yang baik di awal bulan yang baik. Janganlah kita menyia – nyiakan kesempatan untuk melakukan amalan – amalan kebaikan karena itu artinya kita kehilangan kesempatan mendapatkan keutamaan – keutamaan dari bulan tersebut.

Persoalan keluarga adalah persoalan yang sangat penting baik sebagai pribadi maupun kehidupan bernegara. Masalah keluarga adalah sesuatu yg sangat penting menyangkut kehidupan secara individual maupun sebagai masyarakat. Jika keluarga bahagia maka individu dan masyarakat pun bahagia. Karena tujuan keluarga adalah sakinah mawaddah wa rahmah. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

_“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”_ (QS. Ar Rum:21)

Salah satu unsur penting dalam keluarga adalah hubungan suami istri, salah satunya adalah kemesraan diantara mereka. Materi hari ini lebih fokus kepada “bagaimana membangun kemesraan antara suami istri di tengah pandemi”. Alasannya adalah bahwa:

1. pandemi ini adalah rahmat bagi orang beriman. Sebagaimana hadits dari ‘Aisyah ketika bertanya tentang wabah tho’un. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan hal ini melalui haditsnya:

عَنْ عَائِشَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا-، أَنَّهَا قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ رَجُلٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ “.

_Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwasanya dia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang wabah (tha’un), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepadaku: “Bahwasannya wabah (tha’un) itu adalah adzab yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah jadikan sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang ketika terjadi wabah (tha’un) dia tinggal di rumahnya, bersabar dan berharap pahala (di sisi Allah) dia yakin bahwasanya tidak akan menimpanya kecuali apa yang ditetapkan Allah untuknya, maka dia akan mendapatkan seperti pahala syahid”_

2. Idealnya hubungan pasutri menjadi lebih baik karena lebih banyak bersama.
Salah satu hal yang menjadikan keluarga itu baik adalah kebersamaan.
Tapi ternyata kebersamaan itu justru membuat keadaan semakin buruk. Banyak berita yang beredar bahwa terjadi banyak perceraian di masa pandemi. Padahal secara idealnya, kondisi keluarga di masa pandemi harusnya semakin mesra karena banyak bersama namun realitasnya, yang terjadi malah sebaliknya. Diantara penyebabnya:
1. Bertambahnya tugas istri di rumah
● pekerjaan istri menjadi lebih banyak,
Mulai dari tugas rutin seperti menyiapkan makanan, menyiapkan berbagai kebutuhan keluarga, memasak lebih banyak dari biasanya, rumah lebih sering berantakan karena semuanya kebanyakan di rumah.
Karena pekerjaan bertambah, maka bisa saja menjadi beban berat dan menyebabkan depresi apalagi jika anggota keluarga yang lain tidak membantu.
● pengeluaran cenderung bertambah seperti kebutuhan makan bertambah banyak, kebutuhan protokol kesehatan dan lain – lain sedangkan pemasukan berkurang.

Ketika situasi sudah mulai berat, suami tidak cepat tanggap, istri kurang sabar apalagi sampai ngomel maka bisa mengakibatkan pertengkaran dan berujung pada perceraian jika suami tidak sabar dan tidak cakap mengatasi masalah tersebut.

2. Hubungan pasutri sebelumnya tidak kokoh, penyebabnya bisa karena:
● Perbedaan chemistry yang tidak diatasi.
Mugkin sudah lama menikah tapi belum menemukan chemistry dalam hubungan dan tidak berusaha diatasi. Misalnya perbedaan akal dan rasa (perempuan lebih mengedepankan rasa sedangkan laki – laki lebih mengedepankan akal), laki – laki banyak diam sementara perempuan banyak bicara, laki – laki lebih general sedangkan perempuan lebih detail, laki – laki lebih suka memberi solusi sedangkan perempuan cenderung suka menasehati.
● kurang komunikasi
● kurang empati pada istri

*Bagaimana Menjaga Kemesraan dengan Pasangan di Masa Pandemi*

1. Membuat pola kebersamaan dan interaksi antara suami istri
Jangan sampai kondisi kebersamaan kita seperti perkataan orang arab:

ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻟﻤﺴﺎﺱ ﺗزيل ﺍلإﺣﺴﺎﺱ

_“Seringnya bergesekan bisa menghilangkan sensitifitas/respon”_

Karena banyak berinteraksi dengan pasangan hingga perasaannya menjadi kurang peka. Padahal secara idealnya, semakin sering bersama semakin menjadi dekat dan mesra.
2. Pembagian waktu yang lebih baik untuk 4 fungsi ; *me time (terutama untuk istri), couple time, family time and social time.*

*Ada 3 ayat yg selalu diingat oleh laki2 :*

الرِّجال قَوَّمُوْنَ عَلَی النِّسَاءِ
_“Kaum pria adalah pemimpin bagi kaum wanita,…_ (An Nisa: 34)

فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنی و ثلاث و رباع….
_”…maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat”._ (An Nisa’: 3)

إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya tipu daya wanita itu Dahsyat”. [Qs Yusuf 58]

*dan ada 3 ayat yg selalu dilupa:*

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي-
_“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku”_ [HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah]

…وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا –
_“… … Oleh karena itu, berbuat baiklah kepada wanita._ (HR.Bukhari)

– ‎اِرْفَقْ بِالْقَوارِيْرِ
_“Lembutlah kepada gelas-gelas kaca (maksudnya para wanita).”_ (HR. Bukhari & Muslim)

*Me time:* menikmati waktu sendiri terutama untuk istri
*Couple time:* Waktu berdua dengan pasangan. Couple time bisa dilakukan di masa pandemi misal dengan jogging berdua, minum teh hangat di malam hari sambil ngobrol hal – hal yang menyenangkan.
*Family time:* waktu bersama seluruh anggota keluarga
*Social time:*

3. Pembagian tanggung jawab di rumah diantara pasutri dan anak – anak
4. Selalu komunikasi dan musyawarah
Kata kunci ada pada komunikasi…komunikasi….dan komunikasi… disertai dengan musyawarah agar tidak sekedar komunikasi.
5. Memahami peran suami istri untuk saling melengkapi.

Berlanjut….

Leave a Comment